Thursday, 5 November 2015

Creative Minds, Otak Kreatif

Creative Minds



Hello guys, how's your life? long time you never visit my blog. Today, oh no, I mean good night because Indonesia has already turning night (8.33 pm), actually I wanna share about creative minds. What is actually creative minds based on your opinions guys. Of course, you have own ideas toward creative minds definition.
to answer it in simply way, let us start from a little thing, that is creative. Creative represents to doing anything by different perspectives, belongs to uniqueness and stands on spirit thing. Overall creative should be way of life in order to make far away from plagiarism, yet it still consistent on the original idea. While Minds is kind of super power to think about something, understand the whole world and ready to face positive and negative mind. and then, to combine these two words becomes creative mind, thus it invites us to be a person who has creative minds. Creative minds offers human being to think and think more in term of facing the complicated the world's problem. Only if the person who has creative minds will be killed the negative minds in daily life. So, stay tune on creative minds (Yogi Yanto)  

Monday, 29 December 2014

AirAsia QZ8501 Hilang Kontak

AirAsia QZ8501 Hilang Kontak


Pesawat AirAsia dengan penerbangan QZ8501 dari Surabaya tujuan Singapura mengalami hilang kontak pada minggu pagi (28/12/2014). Pesawat yang membawa 155 penumpang, yakni terdiri dari 137 adalah orang dewasa, 17 anak-anak dan 1 bayi. Di samping itu, juga terdapat 2 pilot, 4 awak kabin dan 1 teknisi. Adalah sebuah keberuntungan pada saya, pasalnya pada tanggal 14 Desember 2014 saya melakukan perjalanan dari Surabaya ke Singapura dan sebaliknya. Secara pribadi saya turut berduka cita atas kejadian pesawat AirAsia ini, semoga semua penumpang dan awak pesawat naas ini segera di temukan dengan selamat.
Memang bukan menjadi sebuah kehendak manusia terhadap kejadian ini semua, akan tetapi adalah sebuah takdir yang harus diambil hikmah dari peristiwa ini. Meskipun berita yang beredar masih belum cukup memberikan informasi akan keberadaan pesawat AirAsia ini, setidaknya pihak manajemen AirAsia, khususnya petingginya Tony fernandes, penguasa asal Malaysia ini memberikan informasi dan turut belasungkawa atas kejadian ini. Adapun pencarian, im Badan SAR Nasional (BASARNAS) Republik Indonesia, PT. Angkasa dan di bantu dari beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan Australia telah berkerja untuk menemukan pesawat. (Yogi)

Friday, 26 December 2014

Jati Diri

Mendentumkan Jati Diri
(Sebuah Edisi di Malam Gulita Yang Bertanya Jati Diri Seorang Anak Manusia)

Di malam yang hampa, tak ada yang menemani kecuali denting jam yang berdenjut mesra, sekali-sekali terdengar derikan hewan. Sungguh, malam yang makin melarut dengan kepekatannya, kelam melebur makin menjad, hingga gulitanya malam tak mampu diinterpretasi oleh siapapun, kecuali Dia. Dari seluruh dimensi telah menunjukkan tajinya, taringnya pelan-pelan menerkam kehidupan, sunyi itu makin menjadi, serba pekat, kelam, dan tuslah semuanya mengembara di keheningan malam. Mungkin ini adalah malam yang ke sekian-puluh harinya, sekira duapuluh satu malam atau lebih bahwa perlakuan yang sama telah mengudara, entah apa yang menghantui diri, yang ada ialah keyakinan bahwa malam-malam seperti ini akan segera berlalu, mentari akan memunculkan cahayanya, menebarkan keindahan, memberikan kehangatan di kedinginan, menghapuskan lara ditengah derita, dan memberikan sepucuk kemenangan. 
Jika kau memohon pada keindahan malam maka harus mengharapkan keindahan cahaya. Ketika cahaya belum sempat memberi penerangan pada malam yang gemulai, apakah kau masih menunggu untuk datangnya keindahan dunia. Mungkin terlalu munafik jika hanya menunggu, itu berarti kau hanya menanti ketakpastian. Lantas seberapa jauh langkah yang telah kautempuh demi menggapai keindahan malam. Memangnya dunia ini  hanya menjadi hak milikmu pribadi sehingga alam dan seisinya seenakhati akan menuruti perintah dan titahkau. Belum pantas kiranya kau menyandingi keterbatasan hidup kau dengan penakluk semua isi jagat raya ini.
Adalah sebuah penipuan apabila kau hendak menjadi raja di atas raja, mungkin kau bisa saja menjadi raja di singgasana sehari-hari dalam kehidupan ini, tapi tidak lantas membuat kau berkuasa sepenuhnya. Ada kalanya batasan singgasana kehidupan kau harus di batasi dengan pembatas yang memberikan sebuah pengakuan bahwa kau hanya manusia. Jujur sajalah bahwa kau memang (masih) manusia biasa yang tidak memiliki apa-apa, kekuatan anda masih terbatas, kau masih tak mampu mengubah langit gulita menjadi terang benderang selama duapuluh empat jam penuh, tentunya kau masih minim pengalaman dalam memainkan peranan di dunia ini. Namun kau justru bermain licik dengan ilmu yang picik, mata yang memicik, hati yang mengusik, jiwa yang berisik, dan sungguh kau pemain yang munafik. Laknat!
Wajar saja bila kau masih memandang hidup ini adalah momen membahagiakan diri sepenuhnya, sibuk berpesat pora, membanggakan kemewahaan, dan lagi, dan lagi ingatlah bahwa logika dan kekuataan yang kaumiliki masih minim. Sungguh, kau harus masih mengeja pada apa yang diteteskan air hujan dengan bulir-bulir beningnya. Sungguh, kau masih harus menatap indahnya mentari yang bersinar tanpa lelah. Apa hendak yang kau sombongkan.

Bersambung... (nantikan versi fullnya di novelnya, insyallah.)

Friday, 14 February 2014

Dr. Dino Patti Djalal

Sosok Dr. Dino Patti Djalal dan Gagasan Cemerlangnya



"Shine through your achievement. Anda boleh saja merasa diri unik, nyentrik, dan hebat, namun tanpa suatu prestasi Anda tidak akan dianggap orang," 

Itulah salah satu kutipan inspirasi dari seorang Dino Patti Djalal. Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini lahir di Beograd, Yugoslavia, pada tanggal 10 September 1965. Dr. Dino adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Professor Hasjim Djalal dan Jurni. Perlu diketahui bahwa ayahnya, Hasjim Djalal adalah Duta Besar Indonesia untuk Kanada dan Jerman, dan juga dikenal sebagai pakar International tentang hukum laut. Dr. Dino kecil mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah dan SMP Al Azhar Tinggi. Seiring perjalanan waktu,  dia melanjutkan pendidikannya ke McLean High School, Amerika Serikat, dan melanjutkan  S-1 ke Universitas Carleton. Belum puas dengan gelar sarjana, kemudian dia menyabet gelar Masternya di Universitas Simon Frazer, Kanada, dan diikuti penyempurnaan gelar doktor bidang hubungan internasional di London School of Economics and Political Science, Kanada.
Pada tahun 1987 merupakan langkah awal kariernya, dimulai dengan ambil bagian dari anggota Departemen Luar Negeri. Berbagai tugas kenegaraan diembannya, antara lain sebagai Jubir Satgas P3TT (Pelaksana Penentuan Pendapat di Timor Timur), Ia sempat menjabat sebagai Direktur Urusan Amerika Utara dan Amerika Tengah di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, sebelum akhirnya bersama Andi Mallarangeng ditunjuk sebagai juru bicara (jubir) untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan menjabat sebagai jubir selama 6 tahun sejak bulan Oktober 2004 sampai Oktober 2010. Selain menjabat sebagai seorang Duta Besar, Dr. Dino juga penulis naskah pidato kepresidenan, Aktivis, akademisi, dan juga penulis buku Best Seller nasional. Adapun mengenai kehidupan keluarganya, Dr. Dino menikahi Rosa Raj Djalal yang berprofesi sebagai dokter gigi. Dari perkawinan mereka telah lahir tiga orang anak dengan nama Alexa, Keanu, dan Chloe.
Gagasan-gagasan yang gemilang telah tercipta dari tangan Dr. Dino Djalal. Dia adalah konseptor Kehutanan-11 proses, proses konsultatif yang melibatkan negara hutan hujan tropis di Asia, Afrika dan Amerika Latin, untuk meningkatkan peran kritis mereka sebagai bagian dari pencegahan terhadap perubahan iklim. Dia juga salah satu pelopor dari Global Inter-Media Dialog, sebuah wadah yang mempromosikan kebebasan pers serta toleransi agama dan budaya antara Indonesia dan Norwegia. Dr Dino juga merupakan konseptor dari Presiden Visitor's Program, sebuah program tahunan untuk mengundang Friends of Indonesia dari seluruh dunia untuk mengunjungi Indonesia selama waktu perayaan kemerdekaan pada pertengahan Agustus. Pada tahun 2005, Dia juga menjadi delegasi Indonesia di program "Pimpinan Network di Perserikatan Bangsa-Bangsa Dukungan Reformasi", dipimpin oleh Perdana Menteri Swedia Göran Persson. Selian itu, Dr. Dino juga wakil Sherpa Indonesia untuk G-8 Outreach Summit pertemuan di Hokkaido, Jepang pada tahun 2008.
Tidak sampai disitu saja, Dr. Dino juga mengandrungi urusan pemuda dengan menggagas ide “Forum Pemuda Inovatif” pada tahun 2008. Sebuah forum yang menciptakan kepemimpinan inovatif dari semua sektor masyarakat Indonesia. Forum ini telah mengadakan serangkaian seminar publik untuk menciptakan pemimpin dalam bidang: tata pemerintahan daerah, pendidikan, pekerja perdamaian, kesehatan, reformasi birokrasi, kewirausahaan, Islam moderat, dan perubahan iklim. Selanjutnya, Dr. Dino juga menciptakan lembaga Modernisator – Sebuah pergerakan Pemuda yang fokus dengan anggota kelompok dari Modernisator tersebar di berbagi kalangan, seperti Gita Wiryawan, Chatib Basri, Emirsyah Satar, Sandiago Uno, Lin Che Wei, Omar Anwar, Chrisma Al-banjar, Dian Sastrowardoyo. Ternyata, tidak hanya unggul dalam gagasan berupa pembentukan forums-forum saja, seorang Dr. Dino pun produkif dalam menghasilkan karya berupa buku. Salah satu bukunya, edisi keempat yang berjudul  “Harus Bisa!” menjadi best seller dengan angka penjualan mencapai 1,7 juta copi. (yogi/therectornews)

Mahasiswa Unggul


Mahasiswa Entrepreneur: Solusi Atasi Pengangguran Intelektual

Pengangguran memang masih menjadi masalah kronis dari tahun ke tahun di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013 menunjukkan adanya peningkatan jumlah pengangguran intelektual yang mencapai angka sekitar 610.000 orang dari berbagai lulusan kampus, baik lulusan pendidikan diploma  maupun lulusan sarjana. Angka penggangguran intelekual tersebut mengundang tanda tanya, apa yang telah dilakoni oleh mahasiswa tersebut selama masa studinya, bukankah mereka dikenal sebagai pewaris estafet kemajuan negeri Indonesia. Tapi pada kenyataannya mereka malah menjadi pecundang dalam menentukan masa depan sendiri, artinya mereka terkukung dalam sebuah permasalahan yang dinamai pengangguran intelektual. Mau dibawa ke mana negeri ini bila pengganguran intelektual makin hari makin meningkat. Ini perlu adanya penelusuran yang mendalam pada perjalanan masa studi para pengangguran intelekual tersebut. Apa gerangan yang salah dalam masa studinya, apakah para pengangguran intelekual tersebut memang diarahkan untuk mejadi para pekerja atau memang mereka masih setia dengan paradigma “Mendingan jadi PNS” ataukah memang sistem pendidikan di negeri ini mengharuskan mereka menjadi pengangguran intelektual
Telusur punya telusur bahwa mahasiswa di Indonesia masih memiliki pemikiran yang cukup menyedihkan. Mereka masih berpandangan bahwa setelah selesai menjalani masa studi, maka mereka berpikir bagaimana mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi, berharap besar menjadi PNS, sehingga dogma yang tertanam dalam diri mahasiswa sebagai pencari pekerjaan atau job seeker adalah sebuah jalan yang tak bisa dielakkan lagi. Alhasil, dengan cara berpikiran demikian, baik berpikir sebagai job seeker ataupun paradigma “Mendingan jadi PNS”, maka kebanyakan mahasiswa terlena oleh kenyataan dalam dunia perkuliahaan, kenyataan yang pada dasarnya berbeda 180 derajat dengan dunia pasca perkuliahan. Dan hal ini pun diperparah dengan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih mengedepankan hard skill ketimbang soft skill. Tuntutan mendapatkan sebuah profesi yang bergengsi pasca masa perkuliahan dijadikan sebagai asas fundamental bagi mahasiswa untuk berlomba-lomba demi sebuah pekerjaan, bila perlu terkadang mereka harus “main belakang” demi sebuah pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan pekerjaan makin meningkat tetapi tidak diimbangi dengan penyediaan lapangan pekerjaan. Sehingga, hal tersebut menjadi sebuah simalakama bagi mahasiswa atau lulusan diploma atau sarjana yang hanya mengandalkan sehelai ijazah. Lamban laun mereka pun harus menerima kenyataan bahwa mereka telah menyandang status pengangguran intelektual. Mengapa hal demikian bisa terjadi?
 Sebelum lebih lanjut membahas masalah penggangguran intektual, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu pengangguran intelektual? Menurut Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Menakertrans), Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan suatu usaha baru, dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Dan sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata intelektual berkaitan dengan kata intelek. Intelek berasal dari kosakata Latin: intellectus yang berarti pemahaman, pengertian, kecerdasan. Menurut ringkas penulis, biasanya mahasiswa dikenal sebagai kalangan intelektual. Sehingga, pengangguran intelektual adalah para lulusan diploma dan sarjana (mahasiswa) yang tidak bekerja, sedang mencari kerja atau memang bekerja tetapi bukan pada bidang yang ilmunya semasa studi, artinya mereka bekerja tidak sejalur dengan bidangnya. Berarti, pengangguran intelektual lebih kepada ketidaksesuaian bidang pekerjaan yang digeluti oleh para lulusan diploma atau sarjana dengan bidang ilmu yang mereka pelajari semasa studi.
 Sungguh menyedihkan, sudah bekerja namun ilmu yang mereka dapati selama kurang lebih 3,5 tahun (estimasi paling cepat lulus) tidak diterapkan di lingkungan pekerjaannya. Dapat kita bayangkan bahwa 3,5 tahun bagi ilmuan atau para pakar dalam suatu bidang, maka dengan rentang waktu tersebut dapat menghasilkan sebuah maha karya yang luar biasa. Namun, pada kenyataannya pengangguran intelektual belum bisa dibendung. Kita tidak menyalahkan bahwa lapangan pekerjaan di Indonesia masih terbatas, tetapi alangkah sedihnya bahwa para pengangguran intektual tersebut tidak produktif dalam berkarya, tidak mau menciptakan lapangan pekerjaan. Malangnya, para pengangguran intelektual tersebut masih mati-matian mencari pekerjaan, sana-sini mencari peluang pekerjaan. Pun, hasil dari segala usaha pasti ada yang didapatkan, begitu pula dengan para pengangguran intektual tersebut, mereka mendapatkan pekerjaan tetapi tidak sejalan dengan bidang ilmunya atau bahkan yang lebih hebat lagi adalah ketika para pengangguran intelektual tersebut “main belakang” dengan cara main “money politic” demi sebuah pekerjaan atau menggaet titel PNS.
Sehingga dari permasalahan pengangguran intelektual ini, hendaklah ada sebuah upaya pemulihan dalam jati diri pada mahasiswa, baik upaya yang dilakukan oleh pemerintah ataupun oleh mahasiswa itu sendiri. Dari segi pemerintahan, penulis mencoba mengungkapan pendapat terhadap sistem pendidikan yang seharusnya lebih mengimbangkan antara soft skill dan hard skill. Sementara itu, penulis menitikberatkan pada mahasiswa atau calon lulusan diploma dan sarjana untuk memanfaatkan masa studinya dalam bidang entrepreneurship (kewirausahaan). Artinya, selain mengikuti perkuliahan, mahasiswa disarankan untuk membuka atau menciptakan sebuah usaha yang sesuai dengan bidang studinya. Pada zaman modern sekarang, banyak bidang entreperneur yang digandrungi oleh mahasiswa. Pun pengertian entreperneur telah berkembang,  tidak hanya sebatas usaha dalam jual beli saja, namun lebih luas daripada itu. Belakangan ini muncul berbagai macam entrpreneur yang sejalan dengan bidang ilmu masing-masing. Misal, bagi mahasiswa Teknologi and Informasi, bisa mengembangkan Technopreneur dengan menciptakan maha karya yang bermanfaat baik untuk di jual maupun untuk kepentingan sebuah institusi. Atau bagi para mahasiswa yang menempuh studi di bidang kedokteran, maka mampu menciptakan sebuah usaha Medicalpreneur, dan sebagainya. Dan dari update terbaru dari dunia mahasiswa yang berfokus pada entrepreneur, ada sebuah berita unik dari kalangan mahasiswa entrerpreneur, yakni mahasiswa pascasarjana Kedokteran univeritas Brawijaya, Gamal Albinsaid telah memperoleh penghargaan bergengsi dari Pangeran Charles berkat entrepreneur yang berbasis sosial “Asuransi Sampah”. Seorang Gamal Albinsaid adalah contoh konkrit dari mahasiswa entrepreneur yang mampu menciptakan kebermanfaatan buat diri sendiri, bangsa dan negara Indonesia.
Mengapa harus menjadi seorang Entrepreneur? Karena entrepreneur memiliki berbagai keunggulan daripada menjadi seorang pekerja atau PNS. Seorang entrepreneur bebas melakukan usaha yang mereka inginkan, penghasilan yang dikehendaki, dan memenej waktu kerjaanya semaunya. Merdeka dalam menetukan masa depan. Namun beda halnya, ketika para lulusan diploma atau sarjana yang menjadi pekerja di perusahan, ya beruntung kalau memang kita mendapatkan pekerjaan yang cocok dengan keinginan, namun ketika kita menemukan pekerjaan yang tidak cocok dengan kita, mau dibawa kemana masa depan kita, kerja pun malas menjadi pengangguran tidak mau. Dan yang paling parahnya lagi adalah ketika lulusan diploma atau sarjana tidak mendapatkan pekerjaan alias pengangguran intelektual. Jadi, hendaklah kita merubah pola pikir kita bahwa mempersiapkan diri menjadi seorang entrepreneur adalah solusi terbaik bagi mahasiswa dan atau lulusan diploma dan sarjana, selain mengurangi angka pengangguran, hal itu juga dapat menjadikan kita lebih cepat suksesnya daripada menjadi seorang pekerja atau PNS. Maka, peluang yang paling menjanjikan bagi mahasiswa atau calon lulusan diploma atau sarjana adalah menjadi seorang penguasaha atau entrepreneur. (yogi/therectornews)